Demonstrasi Kontektual 1.2
GELIAT GURU
PENGGERAK UNTUK TRANSPORMASI PENDIDIKAN DI SMP NEGERI 3 SINGARAJA
OLEH
NI LUH REDITI
CGP ANGKATAN 5
KABUPATEN BULELENG
Profil Pelajar
Pancasila merupakan bentuk konkret, manifestasi, pelaksanaan, pengaktualan,
pengejawantahan, penjelmaan bentuk ideal dari pelajar Indonesia. Rule model
sebagai long life learning, yang nantinya diharapkan memiliki kompetensi
menyeluruh, eksis di ranah global tanpa meninggalkan ciri budaya serta kearifan
lokal. Ia memiliki karakter terpuji, berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar
kritis, dan kreatif.
Profil Pelajar
Pancasila merupakan target dari pelaksanaan program guru penggerak. Guru
Penggerak harus mampu membentuk siswa yang memiliki keinginan belajar sepanjang
hayat. Dari Guru Penggerak itu juga nantinya diharapkan lahir pelajar yang
memiliki jiwa pemimpin. Untuk itu guru penggerak harus dapat memberikan
pendidikan yang holistic, mampu mendorong tumbuh kembang anak, orientasi Guru
Penggerak harus berpihak kepada murid. Diharapkan juga mampu membuat guru
menjadi mentor. Agar guru penggerak sendiri dapat bermanfaat bagi rekan-rekan
seprofesinya yang bukan guru penggerak, membuat ekosistem yang berdaya, selalu
belajar dan berbagi.
Untuk bisa
melakukan tugas besar tersebut seorang guru terlebih dahulu harus paham benar
beragam kompentensi utama dari guru penggerak, yakni memimpin pembelajaran,
mengembangkan diri dan orang lain, memimpin manajemen sekolah, memimpin
pengembangan sekolah. Ia harus paham pula tentang nilai- nilai yang mutlak
melekat pada sosok guru penggerak yakni, mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, dan berpihak pada murid.
Berikut ini
pengalaman saya terkait nilai-nilai tersebut. Peran yang sering saya lakukan
adalah “Mewujudkan Kepemimpinan” , yaitu mendorong munculnya peningkatan
keberanian, percaya diri, kemandirian, dan memicu keluarnya jiwa sebagai
pemimpin untuk semua murid di sekolah. Saya melakukannya agar siswa berani
tampil, memiliki kepercayaan diri yang bagus, lihai berkolaborasi serta mandiri
dalam belajar. Saya berharap dengan mampu memunculkan jiwa kepemimpinan tiap
siswa, akan menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar, sekaligus bentuk
pendidikan/penumbuhan karakter baik siswa di sekolah.
Contoh yang pernah
saya lakukan adalah mewajibkan siswa melakukan presentasi di depan kelas. Saya
melatih siswa untuk terbiasa tampil di depan banyak orang, berbicara,
menyampaikan gagasan dan pemikirannya tentang suatu topik. Siswa juga saya
biasakan bisa memimpin diskusi di dalam kelas saat proses pembelajaran
berlangsung. Saya awali hal ini dengan melatih siswa memimpin doa dan
memberikan tanggung jawab kecil di dalam kelas untuk dilaksanakan setiap hari.
Saya sering
mengajak siswa melakukan diskusi secara berkelompok di dalam kelas, untuk
membahas penyelesaian suatu masalah dalam pembelajaran, Setelah itu saya
meminta siswa untuk memaparkan hasil diskusi kelompok mereka ke dalam forum
diskusi kelas. Di forum itu saya melatih siswa menjadi bagian utama dalam
berlangsungnya diskusi seperti ada yang bertindak sebagai moderator, penyaji (presenter),
pemberi tanggapan, pembuat simpulan, dan notulis.
Peran yang jarang
saya lakukan adalah “Menggerakkan Komunitas Praktisi”, karena saya belum pernah
membuat komunitas belajar untuk para rekan guru tapi hanya sebagai
pengikut/anggota di komunitas tersebut. (Karena saat ini, saya masih terbilang
junior di sekolah saya). Di forum MGMP Kabupaten pun saya masih junior, tetapi saya
berusaha berkontribusi dan juga pada organisasi profesi yang lain seperti PGRI mulai
tahun ini saya dipercaya untuk ambil bagian sebagai pengurus, sebagai bendahara.
Nilai berikutnya
adalah “Mandiri”, menurut saya mandiri adalah kesiapan dan
kemampuan individu untuk berdiri sendiri yang ditandai dengan mengambil
inisiatif. Selain itu mencoba mengatasi masalah tanpa meminta bantuan orang
lain, berusaha dan mengarahkan tingkah laku menuju kesempurnaan. Contoh
perilaku mandiri: Mengambil inisiatif melakukan pembelajaran yang menyamankan
siswa tanpa perlu menunggu komando, selama yang dilakukan tidak melanggar
aturan.
Saya pernah
melakukan pembelajaran melalui WAG, yang bisa dioperasikan dengan biaya murah.
Ketika itu siswa mengeluhkan tidak punya kuota (awal pandemi, ketika belum ada
bantuan dari Kemdikbud). Saya mengambil cara itu supaya pembelajaran jarak jauh
tetap berjalan tanpa membebani siswa/orang tua dengan biaya tambahan pembelian
kuota internet.
Selanjunya “Reflektif”,
merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperolehnya
dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga diperoleh suatu kesimpulan untuk
menyelesaikan permasalahan yang baru.
Perilaku reflektif
seorang guru penggerak misalnya ketika ia telah menyelesaikan suatu aksi, maka
ia akan mencatat dan memasukkannya dalam diri, mengendapkan hal positif untuk
ditingkatkan, menyimpan hal negatif untuk ditambah. Menjadikan keduanya sebagai
sarana menjadi diri yang lebih baik setiap waktu. Semua yang terjadi tidak
dibiarkan berlalu begitu saja, etapi selalu mengambil hikmah.
Pengalaman saya
ketika menerapkan pembelajaran dengan memakai modul berbentuk file word, saya
mendapati beberapa siswa kesulitan, ternyata aplikasi di gawai mereka belum
support. Hal seperi ini seharusnya sudah saya antisipasi. Misalnya dengan
mengubah file menjadi pdf terlebih dahulu, supaya semua peserta didik bisa
membaca dari gawai mereka (hampir semua gawai bisa membuka dan membaca file
pdf)
Bagian berikutnya “Kolaborasi”,
merupakan suatu sikap saling ketergantungan secara positif, dibarengi tanggung
jawab setiap individu, kerjasama, serta keterampilan komunikasi interpersonal.
Contoh perilaku
yang bisa dilakukan oleh seorang Guru Penggerak terkait nilai Kolaboratif
adalah bersama-sama guru lain mencari solusi permasalahan yang ditemui anak
didik, baik masalah akademik maupun non akademik.
Ada seorang siswa
yang poin akademiknya realtif tidak bagus. Beberapa guru mata pelajaran
mengatakan siswa sering bolos, sering terlambat, mengantuk di kelas, dan tidak
mengerjakan tugas. Saya bersama-sama guru BK mencari penyebab nilai siswa ini
rendah. Setelah dilakukan home visit, diketahui bahwa ada beberapa
faktor penyebab, yaitu siswa ini yatim, harus membantu ibunya berjualan lontong
tahu saat malam hari. Melalui konseling, siswa membuat kesepakatan bahwa akan
berusaha membagi waktu untuk belajar dan membantu ibunya. Sekolah pun
membebaskan siswa ini dari segala iuran dan sumbangan pendidikan.
Yang tak boleh
terlupa adalah inovatif. Kata kunci nilai inovatif adalah kreatif,
ide baru, adaptasi, dan modifikasi. Contoh perilaku inovatif seorang Guru Penggerak
adalah menemukan cara baru untuk diterapkan, sehingga pembelajaran tak terasa
sebagai beban, tetapi tetap bermakna bagi siswa, menggunakan berbagai sumber
belajar, menyenangkan, dan sesuai dengan cara belajar siswa.
Pada pembelajaran bioteknologi,
saya memberikan pilihan kepada siswa untuk membuat proyek pembuatan produk
bioteknologi sederhana dalam bentuk sebuah laporan sederhana baik dalam bentuk foto
atau video atau powerpoint atau artikel dan juga bisa dalam bentuk laporan
proyek berupa makalah. Jadi pembelajaran IPA tidak melulu tentang rumus dan
hitungan tetapi juga berkarya dalam bentuk yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa
ada hal baru yang sudah berubah yang mengarah pada pembelajaran
berfiferensiasi.
Bagian
terakhir, “Berpihak pada Murid” berarti bisa menempatkan diri
seandainya guru menjadi murid, peduli pada murid, tidak didasarkan pada rasa
suka atau tidak suka murid maupun guru. Keberpihakan pendidik harus selalu pada
kebenaran. Memfasilitasi bakat, minat, cita-cita anak sejauh yang dia inginkan
tidak bertentangan dengan kebenaran itu. Anak juga tidak boleh melanggar
prinsip kebenaran atas nama bakat, minat, dan cita-cita. Di sisi lain, seorang
guru tidak bisa disebut respek pada murid kalau dia memaksakan materi atau cara
mengajarnya secara membabi buta. Saya berusaha memberikan pembelajaran yang
bermakna, yang membuat siswa bisa menggunakannya untuk menghadapi hidup yang
sebenarnya.
Misal di SMP Negeri
3 Singaraja, saya berikan pembelajaran pada pokok bahasan bioteknologi, saya memberikan
pilihan kepada siswa untuk membuat proyek pembuatan produk bioteknologi
sederhana dalam bentuk sebuah laporan sederhana baik dalam bentuk foto atau video
atau powerpoint atau artikel dan juga bisa dalam bentuk laporan proyek berupa
makalah. Jadi pembelajaran IPA tidak melulu tentang rumus dan hitungan tetapi
juga berkarya dalam bentuk yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa ada hal baru
yang sudah berubah yang mengarah pada pembelajaran berfiferensiasi.
Jika ada rekan guru
ataupun Kepala Sekolah yang kurang mendukung dalam menjalankan peran saya sebagai
Guru Penggerak, saya selalu berusaha mendekat, dengan kepala dingin, dan hati
hangat, tidak ada yang tak luluh. Terus melakukan komunikasi intensif dengan
rekan guru dan kepala sekolah, tentang pentingnya mewujudkan merdeka belajar
melalui penerapan Peran Guru Penggerak. Tiada henti berkolaborasi dengan pihak
yang mendukung dalam menerapkan Peran Guru Penggerak. Kolaborasi ini akan
memberikan hasil positif terhadap siswa.
Memulai dari diri,
melakukan perubahan, memberikan contoh, menerapkan nilai-nilai Guru Penggerak
dalam kegiatan sehari-hari. Dengan menerapkan nilai-nilai Guru Penggerak, akan
terjadi perubahan dalam pembelajaran, karakter, dan sikap siswa. Perubahan ini
akan dirasakan oleh siswa, guru, maupun kepala sekolah. Dengan adanya perubahan,
akan membuka pikiran, hati, dan wawasan rekan guru ataupun kepala sekolah yang
awalnya kurang mendukung. Mudahan-mudahan hal iini akan membawa perubahan baik
bagi diri sendiri, teman sejawat, dan kualitas pendidikan di SMP Negeri 3
Singaraja.

Komentar
Posting Komentar