Mulai Dari Diri
Nama : Ni Luh Rediti
Instansi : SMP Negeri 3
Singaraja
1. Tulisan reflektif
kritis
Pemikiran
Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan adalah sebuah tindakan Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat”. Oleh
karena itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau
hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki
lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”. Sedangkan pengajaran
merupakan bagian dari Pendidikan.
Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk
kecakapan hidup anak secara lahir dan batin.
Ki
Hajar Dewantara memberikan pemikirannya tentang Dasar-dasar Pendidikan. Menurut
KHD, Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak,
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan
tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Peran
Pendidik diibaratkan seorang Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah
merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah
dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya. Artinya bahwa kita
seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar
siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan
kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan
bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan
mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah
dan membahayakan dirinya.
KHD
juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka dan mengikuti perkembangan
zaman yang ada namun tidak semua yang baru itu baik, jadi perlu diselaraskan
dulu. Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan
sebagai sumber belajar. KHD menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan
dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan
bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan
isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya
masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi,
yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul
sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.
Kodrat
zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan
kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan
diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan
kecakapan Abad 21. Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari
pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa
memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi
pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk
menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.
Dalam
pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang
masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka
rasakan adalah ‘kegembiraan’ dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati
dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukan unsur permainan dalam
pembelajaran agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan
permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran
melalui permainan, kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan
kebudayaan.
Hal
terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan
memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka
dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun
semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani)
bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil,
berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan
keselamatan.
2.
Harapan dan Ekspektasi
Besar harapan saya bahwa pengetahuan dan Pengalaman baru yang saya
dapat nanti setelah mempelajari secara mendalam pemikiran-pemikiran Ki Hajar
Dewantara seperti misalnya:
a.
Dalam pendidikan, seorang anak
tidak bisa lepas dari kodratnya baik kodrat alam maupun kodrat zamannya
b.
Pendidikan tidak hanya
menyangkut pengetahuan akan tetapi sangat penting membangun dan mengembangkan
budi pekerti anak
c.
Pendidikan menyangkut olah
rasa, cipta dan karsa yang akan membangun kebudayaan baru
d.
Ada Tri Pusat Pendidikan yaitu
rumah, sekolah dan masyarakat
akan saya jadikan
kekuatan/pedoman dalam menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru ini di
kelas/sekolah. Hal-hal yang perlu saya ubah dari diri saya adalah kadang-kadang
dalam pembelajaran saya melupakan kodrat alam anak. Sehingga cendrung anak
mengikuti kemauan saya. Harapan kedepannya bagi diri saya secara konkret yang
akan saya lakukan setelah memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah:
a.
Selalu berusaha melakukan
tindakan yang bisa mencerminkan somboyan KHD yaitu, “Ing Ngarso Sung Tulodo,
Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
b.
Melakukan perubahan terkait
perencanaan pembelajaran dan proses pembelajaran agar lebih memotivasi siswa
menjadi pelajar Pancasila.
c.
Belajar sepanjang hayat
Dengan adanya
perubahan dalam diri, maka harapan kedepannya lebih menukik pada perkembangan proses
pembelajaran sehingga anak-anak lebih merasa dihargai, dibimbing, dituntun,
diamong dan selalu dilayani oleh guru (ibarat seorang petani yang sedang
merawat tanamannya).
Komentar
Posting Komentar