KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4
MENUMBUHKAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH
OLEH
NI LUH REDITI_CGP KAB. BULELENG
Sebagai Calon Guru
Penggerak (CGP) hal yang dapat dilakukan dalam menumbuhkan budaya positif di sekolah
antara lain: 1) menjadi manager dalam kelas, artinya kita bisa mengatur
jalannya proses pembelajaran, dan mengakomodasi kebutuhan belajar murid, 2)
guru sebagai tauladan, artinya segala tindakan guru diarahkan agar menjadi
contoh yang baik bagi murid, 3) guru melakukan survei kebutuhan murid, artinya
guru perlu mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi kebutuhan murid di kelas
(dunia berkualitas setiap murid tentunya berbeda), 4) membuat keyakinan kelas,
5) melaksanakan keyakinan kelas, dan 6) merefleksi kekeyakinan kelas secara berkeseninambungan.
Jika kita sudah berhasil membangun budaya posistif ini di kelas, alangkah
baiknya jika calon guru penggerak juga menularkan hal baik ini kepada rekan
sejawat. Untuk hal itu, guru penggerak dapat menggetoktularkan pengalaman itu
kepada guru yang lain dengan menyampaikannya pada acara rapat-rapat rutin atau
dengan menyampaikan secara langsung pada teman sejawat.
Budaya positif ini
sangat erat kaitannya dengan filosofi pendidikan Ki Hdjar Dewantara (modul 1.1)
yang mengibaratkan seorang guru sebagai petani dinama seorang petani hanya bisa
mengontrol pertumbuhan padi/jagung dengan menyediakan lahan dan kebutuhan
tanaman untuk pertumbuhan. Demikian juga guru, hanya bisa menyediakan sarana
dan fisilitas yang dibutuhkan murid dalam belajar serta mengatur suasana kelas
agar menjadi kelas yang nyaman dan aman untuk belajar. Selain modul 1.1, budaya positif ini sangat
erat kaitannya dengan nilai-nilai guru penggerak (modul 1.2) dan visi guru
penggerak (modul 1.3). Dalam ke dua modul ini mengiinginkan bahwa Calon Guru
Penggerak dapat menumbuhkan nilai-nilai positif dalam diri guru penggerak dan
juga dalam diri siswa beserta rekan sejawat. Jika kita kaitkan dengan meteri
lain yang masih ada hubungannya dengan budaya positif di sekolah, kita bisa
menyimak laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud,
terkait budaya positif di sekolah.
Berhubungan dengan materi
tentang Budaya Positif, tantangannya banyak dan tidak semua masalah dapat
diselesaikan dengan satu cara saja. Butuh cara yang bervariasi untuk menuntun
murid sampai mereka benar-benar dapat berubah menjadi bertanggung jawab dan
mandiri. Saya pun bertemu dengan guru lain yaitu ibu Maliati, beliau
berpendapat bahwa secara kasat mata mulai melihat ada perubahan yang saya
lakukan dalam menangani murid. Terlihat tidak memberikan hukuman lagi tetapi
lebih pada pembinaan. Saya mengatakan bahwa sebagai guru kita harus bersikap
seperti manager dalam upaya mendidik murid. Artinya membiarkan murid menemukan
dan sadar sendiri apa yang dapat dilakukan untuk merubah diri dan apa yang akan
dilakukan terkait masalah yang dialami. Rupanya rekan guru ini terinpirasi dan
mulai mempratekkan di kelas dan sekolah. Saya pernah mengatakan kepada rekan
guru bahwa dalam proses menuntun dan mendidik tidak lagi dibutuhkan ancaman,
paksaan atau memberi hukuman kepada murid. Sama halnya dengan ibu Adi, beliau
pun mulai mengerti tentang segitiga restitusi yang saya jelaskan untuk memberi
dasar pemahaman kepada mereka untuk memupuk disiplin positif.
Saya juga menjelaskan
bahwa kita harus memberi contoh kepada murid, seperti misalnya hadir tepat
waktu saat pembelajaran atau hadir lebih awal dari pada murid. Saat saya hadir di
kelas tepat waktu, itu bukan karena ingin mendapat penghargaan, hadiah, pujian
atau menghindari teguran, melainkan karena itu adalah kewajiban saya untuk
melaksanakan tugas. Disamping itu juga untuk menghargai waktu dan murid-murid
dan tentunya juga untuk memberikan contoh salah satu penegakan disiplin kepada
teman-teman guru dan murid.
Banyak upaya yang bisa
kita lakukan untuk penegakan disiplin positif yaitu hukuman, kosekuensi, dan
restitusi. Ke tiga hal ini merupakan sebuah upaya untuk membentuk budaya
positif. Hukuman adalah awal dari sebuah
proses sebelum diterapkannya konsekuensi. Kadang-kadang hukuman berupa sanksi
perlu juga diberikan. Apabila ada perubahan akibat hukuman tersebut maka upaya
pembinaan akan dilakukan (konsekuensi) agar upaya menyadarkan seseorang dari
kesalahannya dapat berjalan dan kesalahan tersebut akan diperbaiki. Sedangkan
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki
kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter
yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan
murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir
tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus
memperlakukan orang lain. Restitusi adalah upaya positif dalam membangun budaya
positif.
Konsep penghargaan dan
hukuman adalah inti dari teori behaviorisme. Ada stimulus, maka ada respons.
Penghargaan diberikan agar performa meningkat. Demikian juga sebaliknya.
Hukuman diberikan jika tidak berperforma baik alias berbuat kesalahan dengan
harapan kesalahan ini diperbaiki di masa mendatang. Penghargaan diberikan
dengan niatan mulia agar motivasi seorang anak meningkat. Akan tetapi, di satu
sisi, penghargaan ini juga sekaligus hukuman bagi murid lain yang tidak dapat
menunjukkan performa yang bagus. Dengan penghargaan yang berkembang justru
motivasi ekstrisik. Dan ini cendrung tidak bertahan lama. Namun sesungguhnya
yang perlu dibangun adalah motivasi intrinsik yang akan membawa seorang anak
pada motivasi yang bertahan lama.
Ada 5 kebutuhan dasar
manusia yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa
diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan
penguasaan (power). Kebutuhan tersebut harus terpenuhi demi kelangsungan hidup
manusia dan terhindar dari emosi negatif seperti bosan, sedih, kecewa dan
perilaku yang bertentangan dengan norma. Tentang kebutuhan dasar ini dijelaskan
oleh Abraham Maslow haruslah terpenuhi agar terhindar dari kemunculan
tindakan-tidakan yang melanggar aturan. Glasser menyatakan bahwa kapasitas
untuk berubah ada di dalam diri kita. Jika kita dapat mengidentifikasi
kebutuhan apa yang mendorong perilaku kita, maka perubahan perilaku positif
dapat dimulai dengan mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan tertentu dengan
cara yang positif. Maka seorang pemimpin haruslah berusaha menyediakan
fasilitas pemenuhan kebutuhan warga sekolah seperti kantin (memenuhi kebutuhan
akan makan), piket guru dan siswa, satpam (penenuhan kebutuhan akan rasa aman),
dan yang lainnya. Pemenuhan kebutuhan mereka pada dasarnya adalah upaya
pencapaian dunia berkualitas pada diri murid.
Dunia Berkualitas kita
adalah tempat khusus dalam pikiran kita, tempat kita menyimpan gambaran
representasi dari semua yang kita inginkan terkait dengan kebutuhan kita. Dalam
pembelajaran dunia berkualitas bagi soerang siswa adalah terpenuhinya kebutuhan
belajar mereka. Sehingga guru harus mengetahui dan memahami karakter anak
didiknya dan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.
Selama ini murid yang
datang tepat waktu masih sudah cukup banyak. Sebagaian besar masih didasari
atas rasa takut kena teguran atau bahkan hukuman karena pelanggaran yang dibuat
dari guru dan OSIS. Namun masih ada sedikit murid yang datang tepat waktu
karena kesadaran mereka. Nah melalui momen kegiatan PPK sebelum masuk kelas
saya mendapat kesempatan untuk menyampaiakan nilai disiplin positif ini kepada
murid. Dan akhirnya karena seringnya diingatkan dan dikontrol oleh guru piket
dan wali, semakin banyak murid yang datang tepat waktu dengan kesadaran
sendiri.
Strategi yang selama ini
saya terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid saya yaitu:
membangun komunikasi positif dengan menyosialisasikan peraturan sekolah tentang
ketentuan waktu baik setelah jam pelajaran selesai ataupun ketika akan memulai
pembelajaran. Dengan tujuan menegakkan disiplin terhadap peraturan sekolah dan
nantinya agar menjadi sebuah budaya baru di sekolah kita yaitu menaatii waktu
(disiplin waktu), bersahaja, penghargaan positif pada siswa, dan empati. Saat
pembelajaran berlangsung saya juga sering mengjak murid untuk belajar dalam
bentuk kelompok kecil. Melalui pembelajaran kelompok inilah kita dapat melatih
murid untuk menerapkan.
Nilai-nilai
kebajikan yang saya rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid
saya di kelas adalah nilai-nilai sesuai profil pelajar Pancasila, keterampilan
abad 21, dan nilai pembelajar sepanjang hayat. Nilai-nilai tersebut sangat
universal, dan bermakna mendalam, berasal dari nilai-nilai luhur bangsa, dan
sangat diperlukan untuk menyongsong masa depan serta mempersiapkan generasi ke
depan sebagai generasi emas. Nilai pembelajar sepanjang hayat perlu ditanamkan
pada murid agar mereka menyadari bahwa sekolah hanya sejengkal dari seluruh
proses belajar sepanjang hayat yang akan dialami murid. Mereka tidak boleh
berhenti belajar setelah selesai bersekolah. Mereka harus terus belajar melalui
perjalanan hidup mereka dan dari masyarakat.
Saya
meresa sangat bahagia ketika melihat para murid mulai semakin disiplin datang
ke sekolah dengan tepat waktu. Hal ini akan saya tularkan juga kepada rekan
sejawat yang ada di sekolah, sehingga mereka juga bisa ikut merasakan
kebahagiaan seperti saya.
Meskipun
saya sudah berusaha menenamkan disiplin positif pada murid, namun masih saja
ada yang belum datang tepat waktu. Sehingga dari pengalaman itu nampaknya masih
ada yang perlu diperbaiki. Yang perlu diperbaiki dari pengalaman
saya menerapkan budaya positif ini adalah
cara yang bisa dilakukan untuk menangani kasus anak yaitu dengan mengajak
anak-anak untuk membicarakan akibat kalau mereka tidak bisa mengantri di depan
pintu kelas. Setelah mereka diajak berdialog, langkah berikutnya adalah dengan
membuat kesepakatan kelas untuk cara masuk kelas, guru haruslah paling didepan
saat mengantri (memberi contoh). Dengan cara ini, maka niscaya kesadaran anak
akan tumbuh dan akan menjadi sebuah budaya positif.
Saya pernah menerapkan segitiga restitusi ini, namun baru
sekarang saya menyadarinya, Saat itu saya mengahadapi murid yang sangat sering
tidak mengerjakan tugas yang saya berikan. Saya memulai pembicaraan layaknya
sedang berbicara dengan teman dengan gaya bahasa mereka yang cukup santai.
Setelah berkomunikasi terungkap bahwa permasalahan yang sebenarnya ketika dia
tidak mengerjakan tugas karena dia sibuk membatu orang tuanya untuk berkerja
membuat daganhgan. Saat itulah kita Kita
harus mampu meyakinkan mereka dengan mengatakan kalimat seperti; tidak ada
manusa yang sempurna; saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu. Ketika
seseorang dalam kondisi emosional maka otak tidak akan mampu berpikir rasional,
saat inilah kita menstabilkan identitas anak. Anak kita bantu untuk tenang agar kejiwaannya
stabil. Beikutnya kita melakukan validasi kesalahan pada murid ini, bahwa sebenarnya setiap tindakan kita dilakukan
dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami
kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan
cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan menggunakan pernyataan seperti misalnya “Padahal kamu bisa melakukan yang
lebih buruk dari ini ya?” Kamu
bisa saja tidak datang kesekolah atau mungkin lebih buruk lagi. Sebenarnya dia ingin mengerjakan
tugas agar mendapat nilai, tetapi karena kelelahan dia tidak sempat membuat
tugas. Selnajutnya kita dapat melanjutkan pada sesi ke-3 yaitu menanyakan keyakinan. Teori kontrol menyatakan bahwa
kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah
tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2),
maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan
berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Misalnya kita tanyakan “Apakah kamu
ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya?”
Kebanyakkan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana
caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti
apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran
yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu
anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut. Sehingga dia akan berupaya
mengatur waktu bekerja dan belajar sebaik mungkin.
Dengan
mempelajari modul PCGP dari modul 1.1 sampai modul 1.4, saya menyadari dengan sepenuh hati bahwa apa yang saya lakukan
selama ini dalam menangani murid baik dalam belajar maupun dalam menangani murid
yang bermasalah masih jauh dari harapan modul ini. Saya lebih cendrung mengajak
murid untuk belajar sesuai dengan kebiasaan saya yang cendrung memaksa anak
dengan ancaman atau pun hukuman. Sangat jarang saya melakukan pembinaan dan
pendekatan seperti yang diharapkan oleh modul ini, karena prinsip saya adalah
yang terpenting siswa itu mau diam dikelas, tidak ribut dalam belajar sehingga
saya tenang dalam memberikan pelajaran.
Namun setelah mempelajari modul 1.1 sampai 1.4 saya yakin
dalam diri untuk merubah kebiasaan
mengajar
yang selama ini saya lakukan, dan kedepan
saya berusaha
melaksanakan pembelajaran berdasarkan filosofi pendidikan Ki Kadjar Dewantara
dengan memperhatikan kebuatuha belajar setiap siswa dan menangani permasalahan mereka
dengan pendekatan budaya positif.

Komentar
Posting Komentar