REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 1.4

 

A.   Facts (Peristiwa)

Jurnal ini memberikan informasi tentang kegiatan saya selama mengikuti sesi pada modul 1.4. Kegiatan dimulai dari membuka LMS modul 1.4 dengan kegiatan awal Mulai dari Diri & Eksplorasi Konsep – Mandiri: 12 Agustus 2022 Pada tahap ini CGP diharapkan dapat mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah. Eksplorasi Konsep – Mandiri: 13 Agustus 2022. Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi: 15 Agustus 2022. Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi: 16 Agustus 2022. Pada tahap ini CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. Selain itu juga CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia. CGP juga dapat menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif. Ruang Kolaborasi: 18 Agustus 2022 Ruang Kolaborasi: 19 Agustus 2022 Demonstrasi Kontekstual: 20 Agustus 2022 Demonstrasi Kontekstual: 22 Agustus 2022. Tahap ini CGP dapat menganalisis kasus-kasus yang disediakan berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif bersama CGP lain dalam Komunitas Praktisi, CGP dapat mempresentasikan hasil analisis studi kasus berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif. Elaborasi Pemahaman/Koneksi Antar Materi*): 23 Agustus 2022, CGP dapat mempraktikan pemahaman mereka tentang penerapan segitiga restitusi dengan murid di sekolahnya, melalui kegiatan praktik penangan kasus siswa dengan pendekatan segitiga restitusi yang direkam dalam bentuk videi. Elaborasi Pemahaman/Koneksi Antar Materi*) : 24 Agustus 2022. Tahap ini mengajak CGP memahami keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3, dan CGP dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Aksi Nyata: 25-29 Agustus 202.

B.    Feelings (Perasaan)

Setelah mempelajari modul 1.4 ini, Saya merasa senang dan bahagia. Karena menurut pemahaman saya, budaya positif sangat penting dibangun dan dilaksanakan di sekolah masing-masing. Hal ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Langkah pertama dalam upaya membangun budaya positif ini adalah menerapkan pendekatan disiplin positif yaitu dengan mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin dicapai sekolah. Dari pada berfokus pada masalah dan perilaku buruk, ada baiknya kita mulai dengan melihat hal-hal positif yang sudah berhasil di sekolah. Ini memberikan landasan untuk membangun visi bersama bagi komunitas sekolah yang berpusat pada diri murid dan pemberdayaannya. Visi yang dikembangkan harus mendukung hal-hal berikut ini:

1.      Penciptaan lingkungan belajar yang ramah murid di mana murid, guru, dan orang tua merasa dihargai dan didukung; serta di mana murid merasa bebas untuk mengekspresikan pandangan mereka dan didorong penuh untuk mencapai potensi yang mereka miliki.

2.      Pengajaran dan penguatan positif yang bertujuan untuk membangun hubungan yang saling menghormati dan peduli.

3.      Strategi untuk mengurangi perilaku yang tidak dapat diterima yang melibatkan semua pemain peran yaitu, guru, orang tua, murid dan manajemen sekolah

Ketika tampaknya seorang murid telah melakukan kesalahan, tantangan pertama adalah untuk memahami alasan perilaku murid, dan untuk mengevaluasi apakah perilaku tersebut benar-benar layak mendapat tanggapan disiplin. Seringkali perilaku buruk dihasilkan dari faktor-faktor di luar kendali anak, seperti masalah transportasi, dan mendisiplinkan murid tidak akan menghilangkan perilaku itu. Di lain waktu, murid membuat pilihan yang buruk berdasarkan kepercayaan yang salah. Misalnya, terkadang murid tidak berusaha datang tepat waktu ke sekolah karena mereka tidak percaya bahwa ketepatan waktu itu penting. Keyakinan ini dapat dikoreksi melalui respons disipliner, menunjukkan bahwa keyakinan bisa diperbaiki.

 

Proses memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh murid dapat diatasi dengan berbagai metode. Seperti misalnya penerapan stimulus respon-teori kontrol, hukuman atau konsekuensi, disiplin positif, atau dengan segitiga restitusi.

 

Perasaan saya setelah mempelajari modul 1.4 dan setelah melakukan introspeksi diri, maka saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa saya bisa mewujudkan budaya positif tersebut kearah yang lebih baik dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru, dan keyakinan ini menjadi modal dasar saya untuk terus berpikir dan berbuat demi kemajuan pendidikan.

 C.    Findings (Pembelajaran)

Sebelum mengikuti program PCGP ini saya merasa bahwa apa yang saya lakukan selama ini merupakan hal yang benar. Saya merasa bahwa hukuman yang saya berikan kepada murid yang salah dapat memperbaiki kesalahan mereka demi hanya sebuah angan-angan disiplin pada murid. Namun setelah mempelajari modul ini, ternyata tindakan saya selama ini belumlah tepat.

 

 D.    Future (Penerapan)

Karena itu rencana kedepan untuk menjadikan diri saya agar menjadi lebih baik yaitu dengan melakukan beberapa hal diantaranya:

1.     Melatih penerapan segitiga restitusi dalam upaya mewujudkan budaya positif di kelas secara akti dan efektif;

2.     Bekerja sama dengan sesama guru, pimpinan, dan juga dengan pihak lain dalam upaya menyosialisasikan segitiga restitusi ini,

3.     Memperbanyak dan memperkaya diri dengan pengetahuan melalui diklat pengembangan diri,

4.     Merefleksi diri dan refleksi terhadap komunitas sekolah.

Selain kiat-kiat atau upaya ini, saya juga memiliki peluang dan kesempatan untuk menunjukkan diri saya bahwa meskipun dari pengalaman dan usia saya jauh di bawah mereka, tetapi saya memiliki keunggulan yang mungkin tidak dimiliki oleh para senior saya diantaranya:

a)     Memiliki motivasi intrinsic untuk mengembangkan diri sendiri.

b)    Mampu berperan dalam menganalisis kebutuhan siswa,

c)     Sabar dalam setiap kegiatan

Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman, aktif dan proaktif menggerakkan guru lain untuk mengimplementasikan fondasi pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid serta mampu menjadi teladan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai yang menjadi pedoman berperilaku serta Visi yang visioner untuk mendukung calon guru penggerak dalam mewujudkan merdeka belajar, meliputi nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berphak pada murid. Serta diharapkan mampu melaksanakan peran guru penggerak yang merupakan pedoman bertindak yang harus dikuasai oleh calon guru penggerak, meliputi:

a)     Menjadi Pemimpin Pembelajaran

b)    Menggerakkan komunitas Praktisi

c)     Menjadi coach bagi guru lain

d)    Mendorong kolaborasi antar guru

e)     Mewujudkan kepemipinan murid

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat terima kasih untuk rekan CGP

Koneksi Antar Materi Modul 1.2